Mengetahui sejarah Dieng

Kata Dieng berasal dari bahasa Sansekerta “Di”  yang artinya adalah tempat yang tinggi atau gunung dan ”Hyang”  yang artinya ”ruh leluhur” atau ”dewa – dewa” atau suatu yang diyakini sebagai dewa atau ruh leluhur atau bahkan Tuhan atau mahluk – mahluk ilahiyah pada umumnya. Hyang juga sering dimaknai sebagai ”kahyangan”, ”nirwana” atau ”surga”, yakni tempat bersemayamnya ”ruh leluhur” atau ”dewa – dewi”, ”Tuhan” atau ”mahkluk – mahkluk ilahiyah”.

Dieng juga dapat dirunut makna katanya dari bahasa Kawi, yakni ”Di” yang berasal dari kata ”hadi” atau ”adi” yang artinya ”cantik”. ”indah”, ”molek” dan sebagainya yang mengandung pemaknaan ”serba”, ”paling” dan sifat – sifat superlatif lainnya, seperti ”tinggi” atau ”puncak tertinggi”, ”misterius”, ”transenden”, atau segala yang bermakna ”serba sempurna” atau ”ultimate”, dari kesadaran akan makna dan misteri kesempurnaan sebuah tatanan dan iman, juga kemakmuran dan keTuhanan. Dimana sesuatu yang transeden tentu tidak akan termaknai tanpa berdampingan dengan yang ”imanen”, yang duniawi atau yang ”membumi”. Itulah sebabnya di balik transendensinya, Dieng sekaligus harus ”membumi”  sebab ia memang ada di bumi yang nyata. Suatu yang hadir di depan penampakkan mata kita, sehingga Bumi Dieng seharusnya dapat dibangun menjadi prototipe surga nyata yang tergelar di alam ini.

Banyaknya candi Hindu abad VIII-IX di Dieng yang menjadi pesona wisata masa lalu, seperti Machu Picchu di Peru. Candi-candi Dieng yang merupakan peninggalan wangsa Syailendra abad VIII berpotensi menjadi ’Machu Picchu’-nya Indonesia. Machu Picchu adalah tatanan kota arkais peninggalan suku Inca di Peru yang kini menjadi satu di antara tujuh keajaiban dunia yang baru. Upaya Revitalisasi tempat bersejarah di Dieng diharapkan juga bisa memberikan pendapatan baru dari sektor pariwisata. Ekonomi masyarakat setempat diharapkan membaik. Dalam catatan sejarah, pada tahun 1920-an Charlie Chaplin bahkan pernah singgah ke Dieng. Hal ini membuktikan tentunya Dieng dulu sangat indah.

Dieng, Wonosobo-Banjarnegara,01-07-2011. Komplek candi Dieng dahulu kala merupakan sebuah komplek yang terendam air, tahun 1814 HC. Cornelis menemukan kondisi candi dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, ada sekitar 10 candi yang terendam air, sulit untuk membayangkan  kondisi waktu itu, ketika diengplateau menjadi hamparan air semacam telaga,Candi setinggi itu dalam keadaam terendam berarti hampair semua tanah situs adalah telaga yang sangat mungkin airnya bersumber dari mata air balekambang atau mata air yang  berada digunung prahu,yang saat ini mengalir ke kali tulis atau yang ke mata air Bimo Lukar.

Dunia Barat diakui maupun tidak adalah pihak yang sangat peduli dengan karya agung / masterpiece handmade seperti candi yang merupakan tatahan batu yang kemudian ditata sedemikian rupa sampai membentuk sebuah bangunan yang penuh makna dan filosofi, sehingga dengan segala upaya yang pastinya sangat luar biasa, proses penyelamatan candi Dieng dapat dilakukan, sebuah upaya luhur yang untuk saat ini pasti akan menjadi mega proyek dan sekaligus menjadi sumber masalah.

sampai saat ini masih banyak informasi yang perlu diketahui oleh masyarakat luas tentang sejarah pengelolaan Dieng agar kita semua mengetahui proses pengelolaan dari sejak ditemukan sampai sekarang. Melacak sejarah pengelolaan bertujuan untuk mengetahui konsep dan orientasi pengelolaan warisan budaya yang telah dan sedang dijalankan.

Menurut Jajang Agus Sonjaya (Fakultas Arkeologi UGM) Dieng Plateau memiliki beberapa lansekap seperti Lansekap natural (natural landscape), adalah bentang alam yang wujud dan kenampakannya merupakan bentang atau panorama yang masih asli seperti hutan, gurun pasir, pegunungan, danau, sungai, laut, dan sejenisnya tanpa ada bangunan dan atau karya manusia lainnya. Lansekap budaya (cultural landscape), merupakan suatu cakupan lingkungan fisik dan budaya yang dapat mencerminkan suasana kehidupan manusia dalam suatu kesatuan wilayah, baik yang teraba maupun tidak, baik yang menggambarkan kehidupan masa lalu maupun kini. Lansekap sosial (social landscape), merupakan zona-zona yang menggambarkan struktur kehidupan sosial-ekonomi penduduk.

Tempe kemul

tempe kemulTempe Kemul menjadi sajian wajib sebagian masyarakat Dataran Tinggi Dieng yang dihidangkan setiap saat, cemilan ini akan lebih nikmat jika ditambah secangkir kopi purwaceng ataupun teh wulung. Bahkan dalam hajatan-hajatan Desa Tempe kemul menjadi bagian terpenting dalam setiap sajian hidangan, sebagian masyarakat beranggapan tak lengkap jika tak ada tempe kemul. Biasanya tempe kemul di suguhkan dalam keadaan panas ditambah lalapan berupa cabe rawit, Tempe Kemul banyak digemari masyarakat dataran tinggi Dieng karena rasanya yang pas dengan lidah orang wonosobo, Tempe Kemul juga banyak disukai wisatawan asing maupun dalam negeri.

Seperti apa sih wujudnya tempe kemul? Begitu pertanyaan yang dilontarkan oleh teman-teman yang belum pernah mencicipi makanan lezat ini,tempe kemul adalah tempe yang dipotong menipis dan diberi selimut/ kemul kemudian di goreng,  makanan khas satu ini memang cocok dinikmati di daerah berudara dingin seperti Wonosobo, karena kandungan kalori dan protein yang tinggi dapat membantu menghangatkan badan.

Bahan –bahan untuk membuat tempe kemul adalah tepung tapioka,tepung terigu,santan, tempe , kucai dan minyak bumbu-bumbu yang dibutuhkan adalah bawang putih,irisan kencur,irisan kunyit,kemiri,ketumbar dan garam resep ini sekaligus merupakan oleh-oleh bagi yang ketagihan tempe kemul sepulang dari Wonosobo, banyak wisawatan yang secara berbisik –bisik menanyakan resepnya kepada guide dan bisanya guide juga kurang lengkap menyebutkan semua resep dan bumbunya , setelah pulang banyak juga yang mempraktekkan pembuatan tempe kemul dirumah masing-masing.

Setelah digoreng semua adonan tersebut nantinya akan mengembang selebar telapak tangan, dengan warna kekuningan yang berasal dari bumbu kunyit, kemudian mengeras dan ditiriskan agar minyak gorengnya tidak ikut dalam tempe kemul tersebut, tempe kemul dapat ditemui dikios-kios, diwarung bakso, mie ayam atau di warung mie ongklok, tersedia juga di restoran dan kedai minuman, popularitas makanan ini memang tidak tertandingi oleh jenis gorengan apapun . disajikan dalam keadaan panas yang diselingi dengan Lombok cengis / cabe keriting menjadikan makanan ini dikonsumsi setiap saat oleh warga di kabupaten Wonosobo ,tak terasa satu piring amblas dan minta lagi sambil sesekali minum teh hangat ,untuk wisatawan biasanya memesan tempe kemul untuk dijadikan camilan dimobil ataupun dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Kabupaten Wonosobo

Kabupaten Wonosobo terletak di provinsi jawa tengah dan ibukotanya adalah Wonosobo. Kebupaten ini berbatasan dengan sebuah kabupaten lain yaitu Temanggung dan Magelang, Purworejo, Kebumen dan Kendal, Batang dan Banjarnegara. Kabupaten ini berdiri pada yaitu pada tanggal 24 juli 1825 dan bupati pertamnya adalah Kyai Moh yang mempunyai gelar Kanjeng Tumenggung Setjonegoro.

telaga warna di dataran tinggi dieng salah satu obyek wisata yang paling terkenal di kabupaten wonosobo
Foto telaga warna di dataran tinggi dieng salah satu obyek wisata yang paling terkenal di kabupaten wonosobo

Wilayah Kabupaten Wonosobo merupakan kawasan pegunungan dan sangat sejuk, selain itu di kabupaten wonosobo juga terdapat beberapa gunung yang terkenal seperti Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kemudian di sini juga terdapat sebuah daerah yang sangat terkenal dengan pariwisatanya yaitu dieng dan ini terletak di daerah utara dan merupakan bagian dari dataran tinggi dieng.

Dari sebagian informasi yang terkumpul ada sebagian orang yang menyebut wonosobo sebagai sebuah tepat berkumpulnya berbagai makhluk di dalam sebuah alam, mereka hidup rukun dan tidak pernah terjadi perselisihan di dalamnya. Dan jika di lihat dari fakta yang ada saat ini, informasi tersebut memang benar adanya, di sini semua orang mempunyai perlakuan sama.
Bagi para wisatawan, kabupaten wonosobo merupakan sebuah tempat strategis yang bisa membuat mereka merasa bahagia dan mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Salah satu alasannya adalah karena di sini ada banyak wisata alam dan semuanya memberikan sesuatu yang berbeda dari tempat wisata alam lainnya dalam kata lain ada ciri khas yang terdapat dari wisata alam tersebut.

Beberapa tempat wisata alam di Kabupaten wonosobo yang bisa dikunjungi diantaranya adalah :

  1. Wisata Dataran Tinggi Dieng
  2. Perkebunan teh tambi
  3. Pemandian air panas alami kalianget
  4. Waduk Wadaslintang
  5. Curug winong
  6. Air terjun Sikarim

Salah cara termudah menuju Kabupaten Wonosobo adalah melalui Yogyakarta, Semarang dan Purwokerto. Terdapat banyak transportasi umum dan travel dari kota tersebut.

Dieng Culture Festival 2014 – Sebuah Festival Budaya Dieng Yang Paling Dinanti

Dataran Tinggi Dieng adalah sebuah kawasan wisata yang paling beda jika dibandingkan dengan tempat wisata lainnya, pasalnya selain menyuguhkan wahana wisata alam yang indah, Dieng memiliki daya tarik tersendiri yaitu tumbuhnya rambut gembel anak-anak pegunungan Dieng.

Rambut gimbal ini tumbuh secara alami, biasanya disertai rasa demam. Untuk melakukan cukur rambut gimbal tidak boleh dilakukan secara sembarangan, harus dilalui dengan rangkaian prosesi adat.

Rangkaian cukur rambut gimbal anak-anak pegunungan Dieng dikemas dalam acara tahunan, yakni Dieng Culture Festival. Selama 4 tahun terakhir event Dieng culture festival atau sebuah festival budaya terbesar di Dieng banyak dinanti wisatawan, terbukti pada tahun 2013 jalur akses menuju Dieng via Wonosobo terputus nanmun antusias wisatawan untuk mengunjungi Dieng cukup tinggi.

Pada tahun 2014 ini Dieng Culture Festival bakal diselenggarakan pada  bulan Agustus 2014, pagelaran festival budaya dilengkapi dengan berbagai jenis pameran kerjainan khas, pengenalan berbagai obyek wisata baru di Dieng dan puncak acara “cukur rambut gembel”. Event ini akan diselenggarakan di Candi Dieng Arjuna seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dieng Culture Festival 2014 adalah sebuah festival budaya terbesar di Dataran Tinggi Dieng yang paling dinanti wisatawan, karena ajang festival ini merupakan salah satu peristiwa yang paling unik dan bisa disaksikan setahun dalam sekali.

Bulan Agustus tentunya menjadi moment paling berharga untuk mengunjungi Dieng, selain menikmati keindahan alam secara sempurnya (saat musim kemarau) wisatawan bakalan disuguhi festival budaya 2014 yang memikat hati.

Tempat Rekreasi di Dekat Dieng

Selain  obyek wisata terkenal di Dataran Tinggi Dieng, seperti Candi Dieng, Telaga Warna dan Kawah ternyata ada tempat rekreasi yang perlu dikunjungi. Keberadaan tempat rekreasi di Dekat Dieng ini menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan, berikut merupakan tempat rekreasi di dekat Dieng Wonosobo.

Kawasan Rekreasi dan Olahraga Kalianget

Merupakan lokasi pemandian Air Panas Alami. Airnya mengandung Asam Sulfat yang cukup tinggi yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Tempatnya terletak di Jalan Dieng kilometer 3 atau penyakit kulit. Tempatnya terletak di Jalan Dieng kilometer 3 atau sebelah utara kota Wonosobo. Dengan fasilitas lapangan tennis, kolam pemancingan, kolam renang, taman bermain dan stadion Sepakbola.

Gelanggang Renang Mangli

Merupakan pemandian alam dengan air yang melimpah ruah dan sangat jernih. Kata Mangli sendiri berasal dari kata “ Semang “ dan “ Ngili “  yang diambil dari kalimat “ Arep Adus bae semang Ngili “ ( Mau mandi saja harus kelembah mata air ) yang diucapkan dengan sendau gurau oleh Ki Tunteng ( tokoh yang sangat disegani pada masa itu ). Mangli terletak di Kelurahan Kejiwan 1 km dari sebelah barat kota Wonosobo.

Paket Wisata Dieng 2014

Setelah sukses dengan paket wisata Dieng 2013, DIENG plaTOUR kembali menghadirkan layanan paket wisata Dieng 2014 dengan program dan layanan yang lebih menarik.

Adapun layanan paket wisata yang dipilih, sbb :

  1. One Day Tour
  2. Paket Wisata Dieng 2 Hari 1 Malam
  3. Paket Wisata Dieng 3 Hari 2 Malam, dan
  4. Paket Wisata Dieng 4 Hari 3 Malam

Paket wisata Dieng 2014 dihadirkan dengan program yang semakin canggih, wisatawan dapat melakukan reservasi online dan mendapatkan voucher paket perjalanan setelah melakukan pembayaran. Adapun meeting point paket wisata 2014 masih sama seperti tahun sebelumnya, dengan melayani jemputan dari Kota Yogyakarta, Semarang, Yogyakarta, Wonosobo dan kota lainya disekitar Jawa Tengah.

DIENG plaTOUR juga menawarkan paket wisata murah 2014, dengan special Backpacker Dieng selama 2 Hari 1 Malam. Paket wisata ini memenuhi harapan kaula muda yang menginginkan kebebasan dan fleksibiltas dalam perjalanan wisata ke Dieng Plateau.

Tak hanya itu discount sebesar 18% akan diberikan kepada wisatawan yang melakukan pemesanan paket wisata secara online, hal ini akan memberikan nilai lebih dan berbagai kemudahan.

Tahun 2014 merupakan kesempatan terbesar untuk terus mempromosikan potensi obyek wisata Dieng, setelah 3 tahun terakhir kunjungan wisata Dieng mengalami peningkatan. Peningkatan SDM, penyediaan akomodasi terus diupayakan guna memberikan kenyamanan kepada setiap wisatawan yang hendak berlibur ke Dieng.

Detik-detik Dieng Culture Festival 2013

Detik-detik menjelang Dieng Culture Festtival tahun 2013 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pasalnya DIENG plaTOUR harus mengatur rute perjalanan wisata melalui Banjarnegara. Jalur utama Wonosobo – Dieng selama dua bulan dalam perbaikan, dan seluruh wisatawan yang menggunakan roda empat keatas berbelok rute melalui Banjarnegara.

Walaupun demikian atusias wisatawan tetap tinggi untuk menyaksikan festival Budaya terbesar di pegunungan Dieng itu, dan Dieng Culture Festival setahun hanya diadakan sekali saat musim liburan sekolah.

28, 29, dan 30 Juni mendatang sedikitnya ada 5 bocah Dieng yang bakalan diruwat upacara ini merupakan moment paling penting dalam sejarah tradisi dan budaya masyarakat Dataran Tinggi Dieng, mereka dianggap sebagai titisan leluhur.

DIENG plaTOUR sambut 100 Wisatawan dari Jakarta

Sabtu (25/5) dini hari armada DIENG plaTOUR sudah menunggu 100 wisatawan dari Jakarta.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepercayaannya mengikuti program paket wisata DIENG plaTOUR“, dalam pembukaan sambutan kepada 100 wisatawan dari Jakarta. di depan masjid Jam’i Wonosobo.

Pukul 03.00 Pagi hari, 6 buah armada disiapkan mengantarkan 100 wisatawan dari Jakarta untuk menikmati sunrise di Bukit Sikunir.

Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan ke Sikunir dan berberapa tempat wisata di Dataran Tinggi Dieng.

Sementara itu Bapak. Anton selaku ketua rombongan dari PT. Tunas Jaya menyampaikan, “Perjalanan wisata kali ini ke Dataran Tinggi Dieng sangat berkesan, rekan-rekan kami sangat menikmati perjalanan wisata dan sambutan yang meriah dari DIENG plaTOUR sebagai penyelenggara“.

“Mudah-mudahan ditahun depan kita bisa mengunjungi Dieng kembali“, Tutupnya.

Edelweis Dieng, Bunga abadi yang dijual bebas

Edelweis sering disebut sebagai bunga abadi, bunga ini biasnaya hanya tumbuh di ketinggin tertentu pada sebuah gunung dan untuk mendapatkannya kita harus mengeluarkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Bunga Abadi ini biasanya dijadikan sebagai souvernir oleh para pendaki kepada teman-teman tercintannya yangketulan tidak ikut mendaki gunung.

Dibeberapa pos penjagaan gunung sudah sejak lama biasanya diadakan operasi bagi pendaki yang baru turun gunung untuk melihat apakah dia membawa bunga cantik ini atau tidak dan kalau kedapatan memetik bung aini digunung biasanya akan disuruh mengembalikan ketempat semula sebagai hukumannya.

Bau Aroma khas bunga edelweis ini biasanya  akan menjadi semacam penumbuh semangat bagi  para pendaki ketika sedang naik gunung, jadi mirip aroma terapi yang dapat memicu adreanalin dan memunculkan suasana tenang dan bahagia bagi orang yang menciumnya,paling tidak inilah yang penulis rasakan saat masih sering naik gunung, selain hal tersebut bunga adelwei uga bisa menjadi pertanda bahwa seorang pendaki sudah sampai pada ketinggian tertentu disebuah gunung sehingga ketika ada pendaki baru yang menanyakan apakah kita hampir sampai puncak, jawabannya adalah edelweis adalah sebuah tanda bahwa kita hampir sampai puncak.

Edelweis merupakan bunga langka yang sering dijadikan souvenir dan di Dieng ternyata ada beberapa jenis bunga ini yang dapat diamati dari warnanya yang masih asli ( bukan dari bunga yang sudah diberi pewarna) aromanya dan jenisnya lebih mirip dengan edelweis dari gunung lawu, dan walaupun bung aini sudah dipetik tanpa air dapat bertahun bertahun tahun tidak layu dan aromanyapun bertahan sangat alam, oleh karena itu bunga ini disebut sebagai bunga abadi.

Edelweis Dieng ini dijual secara bebas oleh pedagang di Dieng, dan memang sepertinya  tidak ada larangan akan hal tersebut, karena tumbuh dengan subur dan cukup banyak di sentero gunung prahu, gunung,pakuwojo dan gunung lain disekitar Dieng, Bunga Abadi ini bisa dijadikan souvenir yang cantik untuk teman-teman kita yang belum sempat ke Dieng.

Candi Dieng

Selain Kawah Sikidang, Dataran Tinggi Dieng menyimpan peninggalan masa lampau berupa kumpulan candi-candi beraliran siwa.

Candi Dieng merupakan sebuah kompleks candi yang bersifat agama Siwa, terletak di tanah datar tinggi Dieng (Dihyang) , dengan ketinggian  sekitar 2090 meter di atas permukaan laut,  berukuran 1800 meter panjang dan 800 meter lebar. Di sebelah utara terletak gunung Prahu dan dari arah gunung ini mengalir sungai Tulis ke arah selatan, masuk ke dataran tinggi Dieng dan dahulunya membentuk semacam danau dikenal dengan nama Bale Kambang.  Agar air tidak terlalu penuh  terdapat saluran berupa pipa yang disebut saluran Aswatama.  Menurut laporan, pipa air ini sebagian ditemukan di dekat candi Arjuna.

Candi-candi di kompleks Dieng sekarang berjumlah sekitar delapan buah candi  kemungkinan berasal dari abad VIII-IX.  Sebuah prasasti ditemukan di dalam kompleks memiliki angka tahun 713 Saka sama dengan 809 Masehi, namun terdapat kemungkinan candi-candi tersebut ada yang lebih tua, dari sekitar pertengahan abad VIII. Candi-candi di Dieng ini diberi nama wayang, yaitu candi Arjuna, candi Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Bima, Dwarawati, Gatotkaca.  Melihat nama-namanya jelas bukan nama tokoh Mahabharata, melainkan tokoh wayang termasuk punakawan Semar. Hal ini berarti nama-nama tersebut bukan nama asli candi-candi  Dieng.

Kompleks Dieng ini diperkirakan candi Siwa tertua dari masa Klasik Tua,  namun sebelum membicarakan candi tersebut, akan disinggung sepintas lalu tentang  kontak budaya awal Indonesia-India yang berdampak masuknya agama-agama yang berasal dari India ke Indonesia.